Tak Hanya di Desa Penari, di Dayeuhluhur Cilacap juga Terdapat Hutan Larangan

Hutan Larangan di Cibeet Dayeuhluhur Cilacap
Hutan Larangan di Cibeet Dayeuhluhur Cilacap

CILACAP.INFO – Tak hanya di Desa Penari yang diceritakan merupakan hutan larangan, ternyata di Dayeuhluhur Cilacap Jawa Tengah juga terdapat Hutan Larangan.

Bahkan di kawasan ini selain terdapat Hutan Larangan juga merupakan Hutan konservasi yang dihuni satwa liar. Hutan ini terletak di Desa Hanum Kecamatan Dayeuhluhur, Tepatnya di wilayah Cibeet.

Perlu diketahui bahwa Kecamatan Dayeuhluhur ini keseluruhan masyarakatnya berbahasa sunda halus seperti di Ciamis. Areanya pun berbatasan dengan Kota Banjar dan Ciamis Jawa Barat di sebelah baratnya, sedangkan utaranya memasuki daerah Brebes.

Seperti halnya orang pasundan di jawa barat, di dayeuhluhur juga dalam hal keseniannya mirip di jawa barat. Seperti tari-tarian ronggeng, namun juga ada tarian berkolaborasi antara kesenian Sunda dan Banyumasan.

Ada banyak Komunitas Suku atau Adat di dayeuhluhur ini, seperti di desa Cijeruk ada komunitas adat bernama Tejakembang dll. Kecamatan adat Dayeuhlur ini memang kaya akan adat, budaya dan tradisi, selain itu banyak juga situs-situs kuno peninggalan pra sejarah.

Kawasan Hutan Larangan di Dayeuhluhur Cilacap

Layaknya Hutan Lindung, hutan ini selain dikeramatkan juga begitu indah dimana banyak pepohonan dan bunga-bunga liar yang tumbuh subur. Tak ayal jika hutan ini juga dihuni oleh satwa-satwa.

Kawasan Hutan Larangan tersebut menampung berbagai satwa langka seperti Rusa dan Macan Tutul serta aneka burung-burung dan juga terdapat monyet.

Hutan ini oleh masyarakat dayeuhluhur disakralkan dan dikeramatkan, memasuki area ini pantangan untuk meludah dan berlaku tidak sopan. Pasalnya di hutan larangan ini sudah banyak orang yang tersesat, apalagi orang yang berasal dari jauh.

Dari hutan larangan ini muncul sumber air yang airnya mengaliri beberapa sungai seperti Sungai Cibeet, Cikawalon dan Cidayeuh.

Di Cibeet Hanum memiliki seorang Juru kunci bernama Ceceng Rusmana.

Tradisi Adat di Cibeet Hanum Dayeuhluhur

Tak jauh dari tepi sungai Cibeet ini, di sana terdapat sejumlah makam-makam para tokoh atau sesepuh tradisional.

Beberapa di antaranya yaitu, Arya Sacanata atau Pangeran Salingsingan dimana makamnya terletak di Dusun Nombo, Desa Bingkeng.

Makam ini kerap diziarahi oleh komunitas adat yang mempunyai trah dari kerajaan Panjalu Ciamis. Sedangkan area sungainya disakralkan dan dianggap suci sehingga menjadi satu titik atau lokasi pengambilan air suci.

Pengambilan Air suci tersebut yakni suatu kegiatan rutinan setiap tahunnya yang dilakukan oleh komunitas adat panjalu. Yakni untuk mencuci Pusaka Panjalu atau disebut Ritual Nyangku yang digelar pada bulan suro.

Makam Keramat di Tejakembang Desa Cijeruk, pusara seorang pahlawan yang berasal dari Cianjur keturunan Panjalu Ciamis bernama Raden Haji Alit Prawatasari.

Tradisi budaya lainnya yakni “Babarit kupat” (“sedekah ketupat”) atau “babaritan”. Acara ini merupakan ritual tahunan adat Suku Sunda, dimana ritual atau acara tersebut dilaksanakan setiap tahun jelang awal bulan maulud. Yakni dilaksanakan pada hari, bulan, dan tempat yang sama.

Acara Sidekah Ketupat terbagi dua wilayah, untuk daerah Desa Cijeruk, acara dipusatkan di jembatan Sungai Cibeet. Sedangkan di Desa Kutaagung dilaksanakan di tapak batas desa dan di Desa Panulisan Barat di Sumanding Dusun Pendey.

Acara Sidekah Kupat tersebut merupakan bentuk syukur atas kesejahteraan desa atas kecukupan berupa makanan dan minuman. Selain itu guna memohon agar terbebas dari segala jenis bencana seperti gempa bumi, wabah penyakit, banjir, dan angin topan.

Hampir seluruh warga desa di Kecamatan Dayeuhluhur melaksanakan tradisi ini, dimana warga akan datang berduyun-duyun membawa makanan dalam bentuk ketupat. Kemudian ketupat itu digantungkan ke tiang yang sudah dipersiapkan oleh Kokolot Lembur (sesepuh kampung).

Dalam pelaksanaan ritual tersebut kokolot lembur bertugas memimpin ritual dan berdoa mohon keselamatan dan keberkahan. Doa dan keselamatan tidak hanya untuk semua warga desa setempat tapi juga untuk bangsa ini, negara Indonesia.

Setelah ritual doa selesai, ketupat yang digantungkan itu diambil dan dimakan di tempat bersama-sama. Hal itu seperti halnya lebaran hari raya dimana masyarakat bertemu, penuh guyub rukun, sedang sebagian ketupat lagi dibagikan ke masyarakat.

Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait